Jakarta-Jogja-Magetan-Madiun


“Bangsa ini akan besar dengan apa yang kita lakukan”


Mendengar kalimat itu, kembali teringat akan kenangan saat akhir desember tahun 2011 lalu, ketika saya dalam perjalanan menuju Jogjakarta dan Magetan bersama teman-teman nari saya yang berasal dari TMII. Tepat didaerah Indramayu saya melihat begitu banyak ‘kali’ atau mungkin penduduk daerah tersebut menyebutnya ‘sungai’. Hampir sepanjang jalan, ‘kali’ yang saya temui keadaannya memprihatinkan. Dengan warna yang mirip sekali dengan ‘susu coklat’ itu, banyak warga sekitar yang memanfaatkannya sebagai sarana ‘bersih-bersih’. Baik itu membersihkan badan mereka, gigi mereka, pakaian mereka, dan juga perabotan rumah tangga mereka. Bahkan saya melihat dibagian depan ‘kali’ ada bapak tua sedang melakukan kegiatan ‘buang air’, beberapa meter selanjutnya ada seorang ibu yang mencuci piring, lalu ada lagi yang mandi dan sikat gigi, dan seterusnya. Bisa dibayangkan betapa mirisnya ketika saya melihat hal tersebut. Sebelum saya mendapati keadaan tersebut, dalam mindset saya tertanamkan kalau Jakarta kota yang saya tinggali adalah satu-satunya tempat yang mempunyai aliran sungai terburuk. Namun ternyata pemikiran saya tersebut salah besar. Ada beberapa daerah yang mempunyai aliran sungai yang buruk, bahkan mungkin lebih buruk dari Jakarta.

Tercengang dengan apa yang saya lihat, lalu saya mengambil handphone dan mengirimkan pesan kepada teman laki-laki saya “kayaknya saya ingin merubah cita-cita menjadi pemerhati lingkungan deh“. Entah kenapa pemikiran itu muncul dibenak saya. Dalam hati ingin sekali jika kelak saya akan membuat laboratorium yang dapat membantu orang banyak. Jujur, saya tertarik dengan dunia kimia, namun saya tidak terlalu unggul dalam pelajaran kimia. Back to topic, yeah sempat terpikirkan dengan pelajaran IPA saat saya kelas 1 SMP, dimana botol air mineral ditaruh kapas, dilapisi kerikil, tanah dan lain-lain sehingga bisa menghasilkan air yang jernih. Namun itu sepertinya hanya sebuah pemikiran yang sia-sia. Tidak mungkin jika saya membuat penampungan yang diisikan bahan-bahan tadi lalu saya menuangkan ‘air kali’ tersebut. Butuh berapa besar penampungannya? Satu kota?

Sepanjang perjalanan saya hanya dapat terbengong-bengong dengan pemandangan yang campur aduk. Mengapa saya mengatakan campur aduk? Karena disatu sisi saya kagum melihat pemandangan sawah dan suasana yang asri yang jauh dari hiruk-pikuk kegiatan seperti ibukota, disisi lain saya prihatin dengan keadaan sungai yang tidak terawat. Ketika saya melanjutkan perjalanan, saya sudah tidak melihat lagi sungai yang kumuh. Entahlah nama daerahnya apa, perasaan saya langsung lega dan sangat kagum dengan daerah ini. Hingga akhirnya saya sampai di Jogjakarta pada malam hari dan menginap dirumah ‘budenya’ salah satu teman saya di daerah Godean. Ya malam hari, larut malam tepatnya. Lelah sekali rasanya perjalanan, sempat nyasar juga saat menuju ke rumah budenya teman saya itu. Daerah tempat saya menginap itu dekat dengan sebuah pesantren yang berada di gang.


Setelah beristirahat dirumah budenya teman saya, sehabis bangun tidur saya dan teman-teman bergegas ke belakang rumah yang terdapat pemandangan sawah dan gunung yang masih sangat asri.









              

              

Setelah makan dan mandi, selanjutnya kami berpamitan untuk melanjutkan perjalanan ke pasar malioboro. Disana saya dan teman-teman hunting oleh-oleh untuk kerabat yang berada di Jakarta hingga petang.  Selanjutnya kami melanjutkan perjalanan ke Magetan. Melewati daerah Solo dan hampir menemui Stasiun Balapan. Saya tidak terlalu memperhatikan jalanan Magetan karena kondisinya malam hari dan gelap, tetapi saya menyimpulkan Magetan mirip Puncak karena hawanya dingin sekali. Bahkan ada pengalaman membeli air mineral dipinggir jalan, kami mendapatkan air mineral yang dingin padahal kami meminta air mineral yang tidak dingin. Ternyata air mineral tersebut bukan dingin akibat dimasukkan kedalam lemari es, tetapi karena hawa dari daerah tersebut. Perjalanan ke Magetan yang sangat menyeramkan disamping ada mitos-mitos horror yang menyertai kami, juga karena medan perjalanan yang kanan kiri jurang. Dan penerangan di jalan yang sangat minim.

Akhirnya kami sampai ditempat tujuan, tepat saat malam tahun baru. Tidak seperti di Jakarta yang riuh sepanjang jalan. Disana, hanya ada suara knalpot sepeda motor yang dapat memekikkan telinga saat mendengarnya. Dan juga saya melewati malam tahun baru 2012 hanya dengan menelfon dan sms kepada kerabat-kerabat saya yang melewati tahun baru di Jakarta dan Solo. Karena kami letih diperjalanan, akhirnya kami terlelap hingga pagi harinya. Saat pagi tiba, saya melihat pemandangan diluar rumah yang sungguh luar biasa. Karena rumah tempat saya menginap berada ditepi jalan, jadi saya dapat puas melihat pemandangan daerah tersebut, ditambah lagi seberang rumah tersebut terdapat ‘jurang’. Sekitar jam 10 saya dan teman-teman pergi mengunjungi sentral penjualan sepatu sandal kulit. Setelah itu kami pergi ke Madiun untuk menikmati durian. Setelah dari madiun, kami kembali ke Magetan dan melanjutkan perjalanan untuk kembali ke Jakarta. Saya ingat, saya melewati daerah Salatiga yang saya kira, kota Salatiga itu terdapat didaerah Medan. Itulah pengalaman saya dari Jakarta hingga ke timur Jawa. Saya berharap saya dapat tinggal di pedesaan selama beberapa bulan, untuk menghindari hiruk pikuk Jakarta. Over all I have a great experience in my journey...

2 komentar:

  1. Cukup lumayan, sayangnya ga mampir di Ponpes Al Patah Temboro.

    BalasHapus
    Balasan
    1. hahaha okeee. waktu itu tidak sempet main2 karena waktunya mepet

      Hapus